Pengaruh Ulama Indonesia dalam Penyebaran Islam di Cape Town, Afrika Selatan

Pengaruh Ulama Indonesia dalam Penyebaran Islam di Cape Town, Afrika Selatan


 

MEDIAHALUOLEO.COM | Oleh: Yanuardi Syukur (Ketua Tim Delegasi Negeri Rempah Foundation ke Afrika Selatan) - Pada abad ke-16, seorang jenderal Portugis Afonso de Albuquerque (1453-1515) mendapat tugas dari Raja Portugis untuk memperluas pengaruh mereka di Samudra Hindia dan mendirikan kekaisaran Asia Portugis, termasuk hingga menaklukkan Malaka dan Maluku. Afonso berkata kepada pasukannya bahwa Raja Portugal sering memerintahkannya untuk pergi ke Selat Malaka, karena...ini adalah tempat terbaik untuk menghentikan perdagangan yang dilakukan kaum Muslim...di wilayah ini.”
 
“Jadi, untuk melakukan pelayanan kepada Tuhan, kami dibawa ke sini; dengan merebut Malaka, kami akan menutup Selat sehingga kaum Muslim tidak akan pernah lagi dapat membawa rempah-rempah mereka melalui rute ini,” kata dia. “Saya sangat yakin bahwa, jika perdagangan Malaka ini diambil dari tangan mereka, Kairo dan Mekkah akan sepenuhnya hilang,” lanjut Albuquerque.  
 
Paulo Jorge de Sousa Pinto dari Universidade NOVA de Lisboa, Portugal, dalam dalam Ler História (2024) menulis bahwa pada tahun 1508, Raja Portugis mengirim armada untuk “menemukan” Malaka langsung dari Lisbon, dan Gubernur Afonso de Albuquerque menuntaskan perebutan kota itu dengan kekuatan pada tahun 1511. Selanjutnya, Portugis mencapai Maluku dan memperoleh otorisasi dari Sultan Ternate untuk membangun benteng Sao Paolo (‘Benteng Gamalama’).  
 
Portugis tiba di Ternate pada 1512—setahun setelah menaklukkan Malaka—dan disambut oleh Sultan Bayanullah (1500-1521) dalam konteks perdagangan rempah-rempah. Adapun pembangunan benteng tersebut adalah untuk membendung serangan Spanyol dan Tidore, selain untuk mengendalikan perdagangan rempah-rempah di Maluku.
 
Kolonialisme dan shifting jalur perdagangan dari ‘jalur damai’ ke ‘jalur konflik’
 
Penaklukan bangsa Eropa ke timur tersebut menjadikan ‘jalur perdagangan rempah’ yang sebelumnya aman menjadi tidak aman dan sarat dengan konflik, bahkan perang yang kemudian dilanjutkan oleh VOC, Pemerintah Hindia Belanda, dan Inggris. Keserakahan dan penaklukan menjadi motif utama pada masa itu. Salah satu tokoh yang mendukung misi Afonso de Albuquerque adalah kapten Kastilia-Portugis Antonio de Saldanha.  
 
Walaupun minim pengalaman bahari, Saldanha ditunjuk untuk memimpin satu regu yang merupakan bagian dari armada Afonso de Albuquerque menuju India untuk memperkuat pemukiman Portugis di Cochin, kota Pelabuhan besar di India di sepanjang Pantai Malabar yang berbatasan dengan Laut Laccdive (saat ini di negara bagian Kerala, India). Tujuan Albuquerque yang utama adalah mengamankan perdagangan rempah-rempah dengan mencapai ke the spices Island, yakni Ternate dan Tidore.
 
Saldanha adalah pendaki pertama yang mendaki Table Mountain di Cape Town pada 1503. Menurut Ensiklopedia Britannica, “The first European to anchor at Table Bay and climb Table Mountain was the Portuguese navigator Antonio de Saldanha.” Ia bertemu dengan beberapa ratus penduduk asli, suku Khoe yang perekonomiannya bergantung pada penggembalaan, perburuan, dan pengumpulan. Setelah kunjungan Saldanha, kapal-kapal Eropa terus berlabuh di Teluk Table untuk mengambil air tawar, daging, dan perbekalan lainnya.  
 
Para penyintas kapal Belanda Haerlem, yang karam di Teluk Table pada tahun 1647, membawa pulang laporan yang sangat menggembirakan tentang wilayah tersebut sehingga para direktur Perusahaan Hindia Timur Belanda memerintahkan agar sebuah stasiun untuk memasok kapal-kapal yang akan ke timur. Dari situ, Cape Town kemudian bertahap menjadi komunitas dan kota, termasuk sebagai tempat pembuangan politik ulama yang melawan Belanda dari Indonesia.  
 
Pada Sabtu, 7 Desember 2024, kami bertiga dari Indonesia, yakni Yanuardi Syukur, Abdul Kadir Ali dan Irma Zahrotunnisa Wijaya ‘disambut’ oleh Table Mountain tersebut. Gunung dengan puncak datar yang menghadap ke kota Cape Town, tempat dimana 8.200 spesies, terutama fynbos atau semak halus menikmati hidup tersebut setia membersamai dan menjaga tanah Cape Town tetap stabil. Menurut info, tiap tahun tidak kurang dari 4,2juta orang beraktivitas di gunung tersebut yang telah menjadi taman nasional juga.  
 
Negeri kami, Indonesia yang dulu dikenal sebagai Nusantara dengan berbagai kerajaan/kesultanan, pernah menjadi perebutan bangsa-bangsa di Eropa secara bergantian. Mereka datang dengan berbagai aktivitas seperti berdagang, menaklukkan, konversi keyakinan, bahkan tak jarang memecah belah masyarakat demi tujuan temporal. Para pemimpin kami yang menyuarakan kebenaran pun ditangkap, bahkan diasingkan jauh dari rumahnya; diantara mereka ada yang dari Tidore, Makassar, Sumbawa, Madura, Batavia, dan Sumatera untuk diasingkan apakah ke Sri Lanka atau lebih jauh lagi ke Cape Town. Namun, kekuatan hati mereka tetaplah teguh; di Cape Town misalnya, mereka justru membebaskan budak dengan memeluk agama Islam, bahkan mendirikan masjid dan madrasah yang syiar keislaman tersebut masih terus bergema di Afrika Selatan.  
 
Misi ke Cape Town, ‘tanah para wali’
 
Misi kami ke Cape Town adalah berdasarkan tugas dari Negeri Rempah Foundation yang bermitra dengan Kementerian Kebudayaan (sebelumnya Kemendikbud Ristekdikti) untuk ke Afsel dalam rangka misi diplomasi budaya jalur rempah. Selain Afsel, tim NRF juga telah berkunjung ke beberapa negara seperti Madagaskar, China, UK, dan lainnya. Tugas tersebut tidak hanya terkait kunjungan, akan tetapi melihat lebih dekat negara yang kita kunjungi, menemukan ‘outstanding universal value’, yakni nilai-nilai universal yang menjadi milik bersama baik berbentuk nilai atau artefak dalam sepanjang jalur rempah, yakni jalur perdagangan rempah-rempah dunia.
 
Menurut Ketua Dewan Pembina Negeri Rempah Foundation, Dr. Hassan Wirajuda, “mengangkat kembali jalur rempah bukanlah bernostalgia pada kejayaan nusantara pada masa lalu.Tetapi tujuannya juga untuk mengenali kebesaran masa lalu Indonesia dan kekurangannya, serta merefleksikan sejarah masa lalu untuk masa kini dan masa depan.” Lebih lanjut, menurut beliau, jalur rempah sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa merupakan jalur yang damai. Bangsa-bangsa Eropa datang tidak sekadar berdagang, tetapi memonopoli perdagangan. Dari monopoli melalui penaklukan, berujung pada kolonisasi yang menjadi tujuan mereka berdasarkan pada Perjanjian Tordesillas tahun 1494. Berdasarkan perjanjian ini, Spanyol dan Portugal membagi dunia menjadi dua wilayah yang berpengaruh, masing-masing ke arah barat dan timur. “Dengan mandat untuk menduduki semua wilayah yang ditemukan menjadi millik mereka,” ungkap beliau.
 
Selanjutnya, terkait jalur rempah yang membentang dari Asia Timur, Indonesia dan Asia Tenggara, Timur Tengah dan Afrika, serta Eropa, Hassan menyampaikan pesan agar kita jangan hanya bernostalgia kepada kejayaan di masa lalu. Dalam menjawab tantangan globalisasi dewasa ini, rempah pada perdagangan masa kini tidak lagi menjadi komoditas yang paling dicari. Tetapi hal itu harus dikembangkan melalui kerja sama perdagangan, kebudayaan, peradaban, serta teknologi. “Tantangan kita adalah bagaimana mengisi warisan sejarah itu dengan inovasi-inovasi teknologi,” pesan beliau.  
 
Dari bandara udara internasional Soekarno-Hatta kami terbang menggunakan Ethiopian Airlines flight ET629 dengan rute transit di Bangkok. Boarding di 20.05 WIB, dan tidak turun; hanya menunggu naiknya penumpang menuju Addis Ababa, kota terbesar di Ethiopia dengan populasi lebih dari 4juta jiwa. Kami tiba di di bandara internasional Bole di Addis pagi hari, dan langsung bersegera ke ruang tunggu menuju penerbangan ke Cape Town. Bandara Bole berjarak 6 km dari pusat kota Addis Ababa. Di kota yang menjadi pusat dari Uni Afrika ini dan tempat penyimpanan fosil kerangka manusia purba “Lucy” (di Ethiopia disebut ‘Dinkinesh’) ini, saya lihat sebuah tulisan promosi ke Afsel yang berbunyi, “Visit South Africa, There’s so much more to see” yang berarti bahwa ‘ada banyak sekali yang dapat dilihat, bahkan dinikmati dari Afsel.’  
 
Dari Addis, kami masih dengan Ethiopian, flight-nya ET845. Kami boarding pada 06.45 local time, dan tiba di Cape Town tanggal 8 Oktober 11.20 CPT. Sebuah kebahagiaan, kini kami telah tiba di sebuah kota bersejarah dimana para ulama, tokoh, pejuang, dan warga di kepulauan Nusantara diasingkan oleh Belanda. Bukan hanya diasingkan, tapi juga diperbudak! Sebuah tindakan yang tidak manusiawi tentu saja, sebab manusia sejak azali tercipta sebagai makhluk yang bebas, dan tidak dibenarkan untuk dijadikan sebagai budak.  
 
Cape Town siang itu begitu cerah. Sebuah peta besar kota tersebut menyambut kami menjelang keluar dari bandara. Kami disambut oleh dua orang, yakni Mas Rio, seorang lokal staff Konsulat Jenderal RI di Cape Town dan Syekh Imron, dosen di International Peace College South Africa (IPSA) yang mengatur jadwal kunjungan dan destinasi kami serta tuan rumah simposium internasional terkait ‘Cape Town to Jakarta’, melacak akar-akar sejarah relasi antara Afrika Selatan dengan Indonesia. Bersama Syekh Imron juga adalah anaknya bernama Khadijah.  
 
Sebelum menuju ke guest house—tempat menginap Irma—dan rumah salah seorang diplomat KJRI—tempat menginap saya dan Abdul Kadir Ali—kami mencoba menikmati kuliner kota ini. Hari cukup panas, tapi berangin. Kami memilih mencari makanan cepat saji, yakni kentang dan ikan, sebab di outlet kecil tersebut tidak tersedia nasi. Walaupun di pesawat kami juga menikmati berbagai sajian makanan, tapi makanan pertama di selatan Afrika ini mengandung kesan tersendiri, apalagi angin siang itu menyapu-nyapu pori-pori dengan lembutnya. Rasanya ingin segera tidur setiba di rumah nanti. Di rumah kepala kanselarai KJRI Cape Town, Shinta Hapsari, kami disambut dengan sangat ramah dengan pelayanan yang menyenangkan, termasuk berbagi cerita dengan suaminya, KH. Aas Subarkah, seorang tokoh Muslim Indonesia lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir.  
 
Syekh Yusuf: inspirator agama dan kemerdekaan Afsel  
 
Kami juga sempat mampir ke desa Macasar, tempat dimana Syekh Yusuf dikebumikan. Makamnya berada di atas bukit. Di sebelah kanan pintu masuk makam ada rumah masyarakat, sedangkan sebelah kiri, depan dan belakang pintu masuk tidak ada rumah. Tak jauh dari lokasi tersebut adalah Teluk False (False Bay) yang terhubung langsung dengan Samudra Atlantik Selatan.  
 
Di situ kami berdialog dengan seorang ibu penjaga makam. Beliau bercerita bahwa hal penting dari perjuangan Syekh Yusuf adalah pentingnya mengikuti Al-Qur’an. Artinya, mengikuti Al-Qur’an merupakan kunci untuk menjadi Muslim yang baik. Di sebuah tugu sebelah kanan pintu masuk kita juga dapat melihat gambar Al-Qur’an selain gambar kapal yang membawa Syekh Yusuf. Pada dinding kanan makam ada prasasti terkait kunjungan Presiden Soeharto pada 21 November 1997 untuk memberikan penghormatan terhadap Syekh Yusuf yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 7 Agustus 1995 dan pada tahun 2005 Presiden Afrika Selatan Oliver Reginald Thambo menganugerahi beliau dengan the Order of the Companions of OR Tambo in Gold. Selain Pak Harto, Presiden Megawati Soekarnoputri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah ke sini. Masjid yang ada di sekitar makam diresmikan oleh Wapres Jusuf Kalla yang merupakan keturunan dari Bugis.
 
Syekh Yusuf adalah sosok kharismatik. Ia tidak hanya dikenal sebagai ulama besar, tapi juga wali dan pejuang anti-kolonialisme. Gelar ‘syekh’ dan ‘tajul khalwati’ yang melekat padanya menunjukkan bahwa ia adalah seorang mursyid atau pemimpin tarekat Khalwatiyah yang mencapai derajat sufi atau wali. Bahkan, beliau juga disebut dalam bahasa Makassar sebagai ‘tuanta salamaka’ atau ‘pembawa berkah dari Gowa/guru kami yang agung dari Gowa.’ Syekh Yusuf diasingkan Belanda ke Ceylon (kini Sri Lanka) pada 1684 selama 10 tahun. Oleh karena ia memberikan pengaruh pada jama’ah haji Indonesia yang mampir ke Sri Lanka, maka ia kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih jauh, yaitu Cape Town pada 1694. Lima tahun di Cape Town, beliau kemudian wafat pada 23 Mei 1699 dengan meninggalkan pengaruh yang besar bagi umat Islam di kota tersebut.  
 
Di antara hal penting yang perkataan Syekh Yusuf adalah dalam kitabnya Sirrul Asrar. Mengutip Nur Ahmad (alif.id, 21/5/2020), bahwa Syekh Yusuf berpesan bahwa lebih baik seorang yang merupakan pemula dalam perjalanan menempuh pembersihan diri untuk melakukan zikir laa ilaha illallah sebanyak-banyaknya. Syekh Yusuf menyebutkan sehari semalam sebanyak sepuluh ribu kali. “Tujuannya adalah agar anggota tubuh seseorang, termasuk tulang-tulang dan urat-urat yang ada di tubuhnya “tercampur” dengan zikir-zikir itu,” lanjut Nur Ahmad.
 
Menurut saya, kita patut belajar banyak perjuangan Syekh Yusuf. Pertama, semangat mencari ilmu. Syekh Yusuf pernah belajar Islam di Banten, Aceh, Gurajat (India), Yaman, Haramain (Mekkah dan Madinah), dan Damaskus dalam masa 20 tahun (1646-1667). Berbagai tarekat pernah ia pelajari dan mendapatkan ijazah seperti Qadiriyah, Khalwatiyah, Naqsyabandiyah, Ba’alawiyah, dan Syattariyah, termasuk belajar tarekat tanpa mendapatkan ijazah pada tarekat Dasuqiyah, Syadziliyyah, dan Rifa’iyyah. Kedua, semangat mengajarkan ilmu. Sebelum kembali ke Indonesia, Syekh Yusuf pernah mengajar selama lima tahun di Masjidil Haram, Mekkah. Di Cape Town, pengamalan zikir Ratib Al-Haddad adalah ajaran dari Syekh Yusuf.  
 
Tuan Guru Abdullah: pendiri masjid dan madrasah pertama di Afsel  
 
Ziarah makam tidak lengkap jika tidak ke makam Tuan Guru Abdullah (1712-1807) dari Tidore. Tuan Guru sangat spesial sebab berasal dari Tidore, sebuah pulau dimana Abdul Kadir Ali mengajar di Universitas Nuku yang juga berdekatan dengan tempat saya mengajar, yakni Universitas Khairun, Ternate. Nuku dan Khairun adalah nama sultan masyhur dari Tidore dan Ternate yang diabadikan jadi nama universitas. Di makam Tuan Guru, kami bercerita dengan penjaga makam, terutama hal-hal mistik yang ia ketahui atau bahkan alami sebagai penjaga makam.  
 
Beliau bercerita misalnya, pernah ia masuk ke kuburan dengan mengucapkan salam ‘Assalamu ‘Alaikum’, kemudian terdengar dari dalam makam jawaban ‘Wa’alaikumsalam’. Dari atas kuburan tersebut juga pernah ada cahaya yang menjulang ke langit. Selain itu, pernah ada sekawanan burung yang mengitari kuburan tersebut—semacam bertasbih dan menghormati kuburan itu. “Waktu Nelson Mandela keluar dari penjara, tempat pertama yang ia datangi adalah di Tana Baru, yakni kuburan Tuan Guru,” kata beliau. Konon, kata beliau, saat di penjara, Mandela pernah bertemu dengan sosok Tuan Guru yang juga pernah dipenjara di lokasi penjara yang sama di Robben Island, tak jauh dari kota Cape Town.  
 
Elaborasi sosok Tuan Guru termasuk hal menarik bagi kami. Menurut silsilah, beliau adalah keturunan Sunan Gunung Jati di Cirebon. Kakeknya berhijrah dari Cirebon ke Ternate dan berdakwah di Tidore; diangkat sebagai Qadhi, semacam ‘menteri agama’ atau otoritas agama, begitu juga ayahnya, Abdussalam yang juga menjadi Qadhi. Menurut Abdul Kadir Ali, berdasarkan diskusinya dengan pihak keturunan Tuan Guru di Tidore, didapatkan informasi bahwa Tuan Guru ditangkap di Pulau Halmahera saat melakukan perlawanan terhadap Belanda. Kemudian dia diasingkan ke Batavia (sekarang Jakarta) dan kemudian ke Cape Town. Menggunakan kapal Zeepard milik kuasa dagang Belanda pada 1780. Saat diasingkan, usia Tuan Guru adalah 68 tahun. Pengasingan Tuan Guru salah satunya untuk menghalangi interaksinya dengan Inggris yang merupakan musuh Belanda di masa itu.   
 
Di Cape Town, Tuan Guru sempat dua kali mendekam di penjara Robben Island. Di penjara itulah dia menulis kitab suci Al-Qur’an sebanyak 6 copy untuk menjawab kebutuhan umat Islam saat itu yang tidak memiliki kitab suci. Selain itu, beliau juga menulis compendium, semacam kumpulan karangan terkait Islam, yang oleh beberapa penulis disebut berjudul Ma’rifatul Iman wal Islam setebal 613 halaman. Kitab tersebut adalah referensi pembelajaran Islam pada masanya. Setelah keluar penjara, ia tidak kembali ke Tidore.  
 
Sebaliknya, ia mendirikan masjid pertama, bernama Masjid Al-Awwal dan madrasah pertama di masjid tersebut. Dari cerita itu, saya berpandangan bahwa Tuan Guru telah menjawab problematika zamannya, sebuah kontribusi penting bagi masyarakat tempatan. Mandela termasuk orang yang terinspirasi dari Tuan Guru. Dalam konteks outstanding universal value, Tuan Guru telah menunjukkan masterpiece jenis kreatif manusia yang berdampak bagi Afsel dan Indonesia hingga akhir hayatnya di usia 95 tahun. Sebagai tambahan, sekolah tersebut sangat terkenal di masanya di kalangan budak dan non-budak, bahkan sekolah tersebut telah melahirkan ulama Afsel seperti Abdul Bazier, Abdul Barrie, Achmad van Bengalen, dan Imam Hadjie. Muridnya saat itu mencapai 375 orang.  
 
Di Masjid Al-Awwal, kami menunaikan shalat ashar berjamaah, dan mengikuti wirid bakda shalat. Setelah itu, saya menyampaikan taushiyah singkat kepada santri-santri ‘sekolah sore’ di masjid tersebut. Diantara yang saya sampaikan adalah pentingnya mereka belajar yang rajin dan kelak menjadi ulama dan tokoh bangsa, kemudian menjalin kerja sama dengan berbagai tokoh di Indonesia. Mereka harus mengikuti jejak Tuan Guru, sang pendiri masjid yang tidak hanya menjadi ulama tapi juga menjadi pejuang.  
 
Saya juga berpesan kepada anak-anak untuk mengamalkan hadis Nabi Muhammad SAW: Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila anak cucu Adam wafat maka terputuslah amalnya, kecuali (amal) dari tiga ini: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HR Muslim). Secara pribadi saya berharap semoga kelak mereka dapat menjadi ulama dan tokoh bangsa yang membawa Cape Town dan Afsel menjadi negara yang makin maju dan sejahtera, serta dapat menjalin kemitraan internasional yang ekstensif dengan berbagai negara. Waktu berkunjung ke markas besar PBB di New York tahun 2019, setelah menghadiri kegiatan U.S. Professional Fellow di Washington, D.C. dan Pittsburgh, saya bertemu dengan beberapa pejabat dari benua Afrika. Setelah bertemu anak-anak di Masjid Al-Awwal tersebut, saya membayangkan sekaligus mendoakan semoga kelak mereka menjadi ulama atau pejabat negara yang dapat membangun bangsanya sekaligus menjadi pemimpin dunia dengan sinergi dan kolaborasi dengan bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia.  
 
Sayyid Malik: ulama, dokter dan pejuang asal Batavia
 
Kami berziarah ke Vredehoek kramat, yakni ke makam Sayyid Malik di Jalan Upper Buitenkant, dekat sekolah St. Cyprians, Vredehoek. Sayyid Malik dikenal sebagai ulama, dokter, dan pejuang. Di dalam makam tersebut tertulis: “Kramat/Mazaar of Sayed Abdul Malick R.A.” Di bawahnya tertulis: “In memory of Sayed Abdul Malick, born in Batavia, 3rd May 1483, died in Cape Town 21st Sept 1658.” Namun di bawahnya tertulis data yang salah, menurut Syekh Owaisi dari IPSA, sebab tertulis kehadirannya bersama Syekh Yusuf, yakni tertulis “Arrived at the Cape in the Voetboog with Prince Yusuf,” padahal yang benar bersama Tuan Guru. Sayyid Abdul Malik bersama dengan Tuan Guru menjadi pelopor yang pertama kali mendirikan masjid di Afrika Selatan. Kedekatannya dengan Tuan Guru karena dirinya juga merupakan orang kepercayaan Tuan Guru.
 
Kuburan tersebut ditutupi oleh kain berwana merah yang berada di atas sebuah bangunan kuburan sekitar setengah meter. Di dinding atas terpajang kaligrafi Allah di kanan dan Muhammad di kiri, sedangkan di bawahnya terdapat sebuah kubah berwana hijau di atas dua jendela terbuka. Menggunakan kaos biru dongker dan training bertuliskan ‘air’, sang penjaga makam asal Yaman, Bapak Adnan, menjelaskan bahwa makam tersebut pernah menjadi tempat tinggal orang yang homeless dan meminum minuman keras di sekitar makam.  
 
Masyarakat menghormati beliau karena jasanya dalam penyebaran Islam, kata beliau. Lelaki berjenggot dan bercincin di jari manis kanan tersebut menceritakan bahwa Sayyid Malik tiba di Cape dari Batavia sebagai seorang budak. Ia terlibat dengan Tuan Guru dalam mendirikan madrasah pertama di Dorp Street. Makam sayyid terletak di dalam mousaleum hijau dan putih yang indah dengan jendela lengkung dan kubah yang menambah suasana indah di sekitarnya. South African Heritage Resources Agency menetapkan makam Sayyid Abdul Malik sebagai warisan budaya nasional Afrika Selatan. Dengan demikian, maka bangunan makam tersebut akan dijaga dan dipelihara oleh negara.  
 
Perkembangan Islam kontemporer: kampus dan organisasi keulamaan
 
Kami juga berkunjung ke Madina Institute, sebuah kampus Islam modern yang merupakan cabang dari kampus utama di Atlanta, AS, yang didirikan oleh Syekh Ninoy, salah seorang ulama berpengaruh dan termasuk dalam 500 tokoh Muslim berpengaruh di dunia. Di kampus tersebut, kami tidak hanya berdiskusi tentang kampus tersebut tapi juga tentang tradisi intelektual Muslim, salah satunya tentang publikasi.  
 
Sheikh Zaid Fataar, dosen Madina Institute yang menerangkan tentang kampus tersebut adalah alumni Universitas Al-Azhar, Mesir. Ia merupakan anak dari Presiden Muslim Judicial Council (MJC), sebuah organisasi keulamaan di Provinsi Western Cape yang berpengaruh, berdiri sejak 1945. Kepada Sheikh Zaid saya menceritakan salah satu buku saya terkait biografi Presiden Mesir Dr. Mohammad Mursi berjudul Presiden Mursi: Kisah Ketakutan Dunia pada Kekuatan Ikhwanul Muslimin. Ia tertarik untuk membacanya. Saya jadi terpikir, ‘mungkin sudah saatnya untuk melakukan translasi berbagai buku ke bahasa Inggris agar dapat dikonsumsi masyarakat luas’.  
 
Dari Madina Institute, kami lanjut berkunjung ke Muslim Judicial Council (MJC). Kami dijamu di lantai dua gedung tersebut. Warna hijau gedungnya mengingatkan saya akan warna gedung Majelis Ulama Indonesia di Jakarta dan gedung Majelis Permusyawaratan Ulama di Banda Aceh. Hijau menjadi ‘warna umum’ dalam tradisi keulamaan Islam. Di MJC, kami berdiskusi dengan Presiden MJC Sheikh Riad Fataar dan beberapa ulamanya.  
 
Sheikh Riad menyampaikan bahwa muslim Indonesia dan Malaysia seperti saudara, sebab Islam di Cape Town bermula dari situ. Pemerintah Kolonial menangkap ulama dan membuang ke sini, namun Islam berkembang di sini. Masjid juga membangun masjid sendiri/komunitas sendiri karena Belanda menganggap Muslim sebagai setan dan budak. “Masyarakat kami berjuang untuk miliknya,” kata beliau. Pengaruh Indonesia pada Cape Town adalah pada akhlak, adab, semangat atau ghirah pada agama dan pengetahuan, serta mazhab Syafi’i dan berbagai kosa kata bahasa Indonesia. MJC berdiri pada 1945 dan melihat bahwa ‘pendidikan adalah investasi.’  
 
Islam di Cape Town dipengaruhi oleh kontribusi ulama asal Indonesia di masa penjajahan Belanda. Akan tetapi, Muslim Cape Town setelah menjadi komunitas pada akhirnya menjadi mandiri. Muslim Cape Town berjuang untuk mempertahankan identitasnya, ‘establish something unique here’, bahkan melawan Israel di International Court of Justice (ICJ) yang itu merupakan roots dari Indonesia. Islam menguatkan ‘language of liberation’ untuk melawan apartheid.  
 
Muslim Cape Town berusaha menjadikan agar suara Muslim tetap ada dan diproteksi. Mereka juga menjaga perasaan bersaudara (sense of brotherhood) sebab ‘Muslim adalah bersaudara’ sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 10. Batas-batas negara menurut beliau dibuat oleh Barat yang membuat umat menjadi terkotak-kotak berdasarkan ‘identitas nasional’ negara, padahal semua Muslim adalah bersaudara. Salah seorang ulama yang hadir menyampaikan ‘pengaruh kultural yang kuat dari Indonesia ke Cape Town.’ Kawasan Bo Kaap adalah ‘cultural hub’ Muslim, sebab di wilayah tersebut Islam berkembang dan menyebarkan pengaruhnya ke berbagai daerah di Afsel.
 
Kami juga dijadwalkan menjadi narasumber Radio 786. Sebagai ketua tim, saya sekaligus menjadi juru bicara bagi tim ini. Saat masuk ke ruangannya, terlihat foto Imam Abdullah Haron, seorang ulama dan pejuang perlawanan terhadap apartheid yang syahid di penjara. Radio ini dikenal sebagai ‘a leading multi-award winning South African broadcaster’. Mereka punya motto ‘at all times think, my Allah is watching me with much love and affection.’ Di sini saya menjawab wawancara tentang kegiatan simposium di IPSA dan hubungan Indonesia-Afsel. Diskusi di radio ini penting untuk berbagi dan menguatkan ikatan sejarah antara Indonesia dan Afsel.  
 
Kami juga diberikan sebuah majalah Vision Advertiser edisi Desember 2024 yang di dalamnya full dengan iklan produk, layanan dan jasa, dan diselingi dengan tulisan yang bernuansa keislaman. Di dalamnya ada produk makanan, farmasi, edukasi, hingga layanan keamanan bersenjata berpengalaman 25 tahun yang menawarkan respon bersenjata (armed response), pemantauan (monitoring), kontrol akses (access control), alarm pencuri (burglar alarms), dan CCTV.  
 
Pada halaman 30 majalah tersebut ada tulisan berjudul ‘a God fearing king’, yakni kisah seorang raja yang Takut Tuhan. Diceritakan bahwa pada zaman dahulu kala, di India ada seorang raja muslim yang dikenal dengan nama Sultan Nasiruddin. Ia adalah seorang raja yang sangat saleh dan hidup sangat sederhana. Ia sangat takut kepada Tuhan sehingga tidak akan mengambil sepeser pun dari kas negara. Ia menganggap pendapatan negara sebagai amanah suci rakyat, yang hanya milik rakyat. Raja menganggap dirinya hanya sebagai penjaga pendapatan yang seharusnya digunakan untuk kebaikan rakyat. Raja mencari nafkah dengan menulis kaligrafi Al-Qur’an dan buku-buku baik lainnya. Ratunya tidak memiliki pembantu untuk memasak makanan mereka. Ratu dari kerajaan sebesar itu memasak makanannya sendiri.  
 
Suatu ketika, sang ratu membakar jari-jarinya sendiri ketika sedang memasak. Ia menunjukkan jari-jarinya yang terbakar kepada suaminya, sang kaisar India, dan meminta agar ia menyediakan seorang pembantu untuk membantunya menyiapkan makanan bagi keluarga.  Sang kaisar berkata, “Ya ampun, berapa pun yang saya peroleh dengan menulis Al-Qur'an terlalu sedikit untuk menyediakan seorang pembantu. Saya tidak dapat mengambil sepeser pun dari kas negara untuk keperluan saya sendiri karena itu bukan milik saya. Itu milik rakyat. Saya minta maaf karena saya tidak dapat menyediakan pembantu untuk Anda. Anda harus memasak makanan sendiri.”
 
Moral tulisan ini adalah bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki rasa takut kepada Tuhan, yang dengan begitu ia akan bertindak adil dan tidak memanfaatkan fasilitas untuk kepentingannya sendiri.  
 
Studi ekstensif dan konstruksi pengetahuan baru  
 
Studi-studi untuk menemukan ‘pengetahuan baru’ sangat dibutuhkan untuk membangun relasi yang semakin bermakna antara Indonesia dan Afsel. Telah banyak studi yang dibuat oleh intelektual, penulis, dan jurnalis dari Indonesia dan Afsel, namun dibutuhkan studi yang lebih ekstensif untuk itu. Pusat Studi Indonesia-Afsel penting untuk digagas, atau jika telah ada dapat dikembangkan dalam berbagai tema menarik yang berangkat dari sejarah tersebut.  
 
Di sela-sela kunjungan ke beberapa makam tersebut, kami kita mampir ke IPSA untuk silaturahmi dan membicarakan rencana simposium. Diskusi dipandu oleh CEO IPSA Syekh Dawood dan Syekh Owaisi. Syekh Owaisi mengatakan bahwa informasi terkait kehidupan Tuan Guru di Cape Town cukup banyak ditulis, sedangkan informasi terkait kehidupan beliau selama di Indonesia jarang. Olehnya itu, ia berharap agar kami dari Indonesia dapat menulis itu. Artinya, perlu ada pelacakan historis terkait kehidupan keluarga Tuan Guru di Cirebon, tempat asal kakeknya, termasuk melacak silsilah keluarganya dengan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah (1448-1568), aktivitasnya selama di Tidore, dan Batavia (saat diasingkan).
 
Sunan Gunung Jati lebih dikenal sebagai Sayyid Kamil, anak dari Syarif Abdullah Umdatuddin dan Syarifah Mudaim (Nyai Rara Santang). Syarifah Mudaim adalah anak dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) dari Kerajaan Padjadjaran di Jawa Barat. Menurut riwayat, silsilah Sunan Gunung Jati tersambung hingga Rasulullah SAW. Ada dua pandangan terkait hal tersebut.  
 
Pertama, silsilah yang berjalur muasal Uzbekistan Asia Tengah sesuai dengan data pihak Keprabon Cirebon bernasab via jalur Al-Musawi Al-Kadzimi Al-Husaini, diakui jalur ini dan di isbat oleh Naqib Internasional melalui Naqib Hasyimiyyun Turki. Jalur ini dimulai dari Syarif Hidayatullah, Abdullah Umdatuddin, Ali Nuruddin, Husein Jamaluddin Al-Akbar, Mahmud Nasiruddin, Makhdum Husein Jalaluddin An-Naqwi, Ahmad Al-Kabir, Sayyid Husain Jalaluddin Al-Bukhari, Ali Al-Mu'ayyid, Ja'far, Muhammad, Mahmud, Ahmad, Abdullah At-Taqi, Ali Al-Asykar, Ja'far Az-Zaki, Ali Al-Hadi, Muhammad Al-Jawad, Ali Ar-Ridha, Musa Al-Kadzim, Ja'far Ash-Shadiq, Muhammad Al-Baqir, Ali Zainal Abidin, Husein Asy-Syahid dan Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Pendapat ini disepakati dalam musyawarah tokoh lintas keturunan Walisongo dan keturunan langsung Sunan Gunung Jati di Garut, 30 Juli 2023.  
 
Kedua, bersumber pada catatan Syajarotu al-Muluk dan sudah disesuaikan dengan berbagai catatan Kesultanan Kelantan, Kerajaan Palembang dan beberapa catatan yang lebih ma'ruf (diketahui) dan masyhur (lebih banyak dikenal). Pandangan ini berpandangan bahwa Syeikh Jumadil Kubro adalah anak dari Sayyid Ahmad Jalaluddin Ahsan (Azmat) Khan bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Malik bin ‘Alwi (‘Ammul Faqih) bin Muhammad (Shahib Mirbath) bin ‘Ali (Khola Qosam) bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi (‘Alawiyyin) bin ‘Ubaidullah bin Ahmad (al-Muhajir) bin ‘Isa (an-Naqib) bin ‘Ali (al-‘Uroidli) bin Ja’far (as-Shodiq) bin Muhammad (al-Baqir) bin ‘Ali (Zainul ‘Abidin) bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Tholib dan Fathimah (az-Zahro al-Batul) binti Muhammad Rasulullah SAW. Pendapat ini ditolak oleh musyawarah tokoh lintas keturunan Walisongo dan keturunan langsung Sunan Gunung Jati di Garut, 30 Juli 2023.   
 
Menurut saya, butuh studi yang lebih dalam terkait silsilah tersebut, terutama garis keturunan kakeknya Tuan Guru yang pertama kali hijrah dari Cirebon ke Tidore.   
 
Pada Kamis (11/12/2024), kami menghadiri simposium internasional di IPSA dengan tema “Cape Town to Jakarta”. Acara dihadiri oleh para professor, dosen, peneliti, penulis, jurnalis, ulama, anggota parlemen, diaspora Indonesia, termasuk mahasiswa IPSA. Peserta hadir dengan antusias. Saya menjadi pembicara pertama setelah sambutan dari CEO IPSA dan Konjen RI. Materi singkat saya berjudul “faith, science, and civilization as the basis of cultural relations between Indonesian and South African society” yang membahas tiga faktor penting relasi RI-Afsel terkait penyebaran Islam, yakni relasi keimanan, relasi pengetahuan dan relasi peradaban. Saya menjabarkan ketiga relasi tersebut dengan mencontohkan pada kontribusi Syekh Yusuf dan Tuan Guru.  
 
Setelah acara, Syekh Owaisi memperlihatkan Al-Qur’an yang ditulis tangan oleh asisten dan murid Tuan Guru bernama Encik Rajab van Bugis. Menurut catatan berbahasa Arab Jawi di mushaf tersebut, mushaf tersebut selesai ditulis di Kampung Jali-Jali pada Senin, 14 Jumadal Tsani pada waktu ashar. Namun tidak tertulis tahunnya. Mushaf ini perlu dibuat replikanya sebagai salah satu karya dari Indonesia, selain mushaf yang ditulis oleh Tuan Guru. Preservasi naskah Islam tersebut penting sebagai penanda kontribusi intelektual dari Muslim Indonesia.  
 
Terkait penulisan mushaf Al-Qur’an dengan tulisan tangan, saya jadi mendapatkan ide seperti ini. Sepertinya bagus jika para santri di berbagai pesantren, misalnya dalam pelajaran khat (penulisan kaligrafi Islam), untuk mendapatkan tugas menulis Al-Qur’an dengan tulisan tangan mereka dan harus selesai sebelum menamatkan pendidikannya (Tsanawiyah bisa 15 juz, Aliyah bisa 30 juz). Dengan demikian, mereka secara tidak langsung memiliki pengalaman preservasi Al-Qur’an dengan tangan mereka sendiri. Hal ini lebih mudah, sebab saat ini kita bisa menulis Al-Qur’an dengan melihat mushaf yang telah ada, berbeda dengan masa Tuan Guru dan Encik Rajab yang menulis Al-Qur’an tanpa melihat Al-Qur’an, yakni hanya dengan mengandalkan hafalannya.  
 
Selain beberapa ulama di atas, di Cape Town juga masih banyak sosok ulama dan tokoh lainnya yang penting diulas, seperti Tuan Dea Koasa (bangsawan Kesultanan Sumbawa, makamnya di Simons’town), Tuan Ismail Dea Malela (bangsawan Kesultanan Sumbawa, makamnya di Simon’stown), Syed Abdurahman Motura/Pangeran Cangraningrat (ulama dari Madura, makamnya di Robben Island), Syekh Abdurahman Matebe Shah (dari pantai Barat Sumatera, makamnya di Constantia), dan lainnya.  
 
Kehadiran mereka di Cape Town menjadi ‘menghidupkan’ komunitas tersebut menjadi kota yang diberkahi oleh perjuangan dan makam para ulama dan wali yang berjuang dengan hati yang kuat. Mungkin tepat ungkapan yang mengatakan, “The heart belongs in Cape Town” karena semangat perjuangan tersebut. para ulama dan wali tersebut memang telah tiada, tapi masih ada. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesiapa yang gugur dalam perjuangan membela agama Allah itu orang mati, bahkan mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Al-Baqarah: 154)
 
Urgensi diplomasi budaya Indonesia
 
Terkait dengan diplomasi, selain mampir ke kantor KJRI untuk foto-foto, kami dijamu makan malam bersama Konjen RI Cape Town H.E. Tudiono dan istri. Malam itu setelah bercerita terkait program selama kunjungan ke Cape Town, kami juga diajak untuk ke Cape Town pada November 2025 menghadiri event tahunan KJRI. Salah satu yang menarik adalah tentang rencana rencana Pemerintah Kabupaten Gowa untuk merealisasikan rencana lama untuk membuat replika rumah adat Balla Lompoa dari Gowa, Sulawesi Selatan yang menurut Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan pada 16 Juli 2020, “…biaya pembangunan dan pemeliharannya oleh Pemkab Gowa akan menggunakan kayu kelas yang telah diakui dunia, seperti kayu yang dipakai di Masjid Al-Aqsa.”
 
Terkait naskah buku yang kami telah susun, “Islam di Afrika Selatan”, Konjen juga memberikan advis agar bisa diluncurkan di Cape Town dalam dua bahasa (Indonesia-Inggris). Kami juga berbincang tentang pentingnya menjadikan Tuan Guru sebagai tokoh nasional di Indonesia dan Afsel, sebagaimana Syekh Yusuf yang telah menjadi pahlawan nasional di kedua negara. Bersama Konjen, kami juga berkontribusi sebagai narasumber konten Youtube beliau dengan obrolan ringan-ringan dan santai. Gagasan Tuan Guru sebagai pahlawan nasional pernah disuarakan diantaranya oleh Sultan Tidore H. Husain Sjah (2017) dan juga akademisi Universitas Nuku, Abdul Kadir Ali (2024) saat berkunjung ke Cape Town. Menurut Konjen Cape Town Tudiono, secara prosedural, pengusulan tersebut oleh masyarakat kepada Pemerintah Kota Tidore, ditandatangi oleh Gubernur Maluku Utara yang ditujukan kepada Menteri Sosial. Setelah itu, Menteri Sosial akan menyerahkan kepada tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) untuk dikaji kelayakan tersebut dan jika layak maka akan ditetapkan oleh presiden.  
 
Mengutip Kementerian Sekretariat Negara, gelar adalah penghargaan negara yang diberikan Presiden kepada seseorang yang telah gugur atau meninggal dunia atas perjuangan, pengabdian, darmabakti dan karya yang luar biasa kepada bangsa dan Negara. Sedangkan Pahlawan Nasional   adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.
 
Setelah simposium hari itu, kami segera ke bandara untuk kembali ke Jakarta. Rasanya masih ingin tinggal lebih lama untuk mengikuti kata sebuah iklan di Addis Ababa yang bilang, “There’s so much more to see”. Masih banyak tempat, orang, dan event yang belum kami hadiri, termasuk menikmati kuliner ala Cape Town. Kita telah tiba di Cape Town, menghadiri panggilan untuk berkunjung ke negeri para ulama dan wali tersebut, seperti kata ungkapan populer yang mengatakan, “Cape Town calling, and I must go.” Kita berharap semoga ada waktu berkunjung kembali di hari yang akan datang.  
 
Salah satu yang rasanya kurang dalam kunjungan ini adalah kami tidak sempat bertemu dengan Professor Muhammad Haron yang sedang sakit, dan diaspora Indonesia asal Sumatera Barat, Inoki Nurza yang sementara bekerja di Johannesburgh. Keduanya adalah sosok penting yang mendukung kunjungan ini dan kami berharap di lain waktu dapat bersilaturahmi.  
 
Kami menyadari bahwa butuh banyak supporting dalam diplomasi budaya. Mantan Menteri Luar Negeri RI Dr. Hassan Wirajuda pernah mengatakan bahwa “upaya diplomasi seperti orkestra yang melibatkan banyak pemain, bukan upaya pribadi” (Antara, 8/11/2023). Maka, berbagai inisiatif diplomasi kita membutuhkan sinergi dari sekian banyak ‘pemain’ agar orkestranya berjalan dengan indah dan maksimal dalam semangat bersama untuk saling mendukung, termasuk dalam dukungan studi-studi kearsipan. Waktu di Cape Town kami sempat berkunjung ke arsip yang penuh dengan berbagai dokumen masa lalu yang kaya untuk dielaborasi.  
 
Akhirnya, menggunakan burung besi Qatar Airways, pada tanggal 11/12/2024 kami bertiga kembali ke Jakarta dengan rute Cape Town-Doha-Jakarta (flight QR1372 dan QR954), dan mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta dengan selamat dan semangat untuk terus menggali sejarah dan mendekatkan hubungan antara Indonesia dan Afsel hingga tingkat yang lebih bermakna bagi kedua negara. *

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama